Begitu banyak yang langsung menyentuh panca indra Sammudera ketika langkah kakinya memasuki Tierra. Sesaat setelah pintu otomatis terbuka, udara sejuk dari dalam langsung menerpa permukaan kulitnya. Berbanding terbalik dengan panasnya langit Senopati di luar sana.
Dari seluruh kayu-kayu tebal yang memenuhi area restoran, semerbak hangat langsung menerpa hidung Sam. Berpadu dengan uap air beraroma daun sage dan teh putih yang juga ikut menyambut ramah. Di sudut lain, ada sedikit jejak rempah dari dapur dan harum kopi robusta yang tercium samar lewat sirkulasi udara. Semua detail yang disajikan restoran vegan ini berhasil memenuhi seluruh sistem sarafnya.
Sam memilih untuk memelankan derap-derap kakinya. Menurutnya, tempat ini layak untuk dinikmati pelan-pelan. Ia pun memahami, tidak heran gadis yang dua bulan terakhir mengisi setiap sudut hati dan kepalanya itu sering memuja Tierra, bahkan sejak hari pertama tempat ini beroperasi.
Di siang menjelang sore hari, lelaki yang baru saja berulang tahun ke-34 kurang dari sebulan lalu itu, seperti biasa, berpenampilan santai. Semuanya serba hitam. Celana kargo pendek hitam, kaos polos hitam, ditimpa jaket denim yang juga hitam. Ditambah dengan sepasang Converse hitam putih, serta sebuah jam tangan kulit klasik berwarna hitam yang melingkari pergelangan tangan kiri.
Itulah outfit santai nan malas yang dikagumi diam-diam oleh Lusheeta. Cukup aneh bin ajaib, pikirnya, karena pada kenyataannya, gaya berpakaian tidak niat dan ogah-ogahan itu justru mampu membuat Sam terlihat lebih mencolok dibanding para pria lain yang berlalu-lalang hidupnya.
Sam membelokkan langkahnya ke arah tangga, lalu menaiki undakan spiral yang berada di pojokan area lantai satu. Suara sepatunya beradu dengan kayu ek yang menjadi bahan utama tiap anak tangga.
Begitu kepalanya muncul di bibir tangga lantai dua, Sam langsung menangkap punggung milik sosok familier yang beberapa jam lalu memintanya untuk menyusul ke sini. Perlahan tapi pasti, ia berjalan ke arah meja batu alam yang diisi oleh tiga teman kerja itu.
Dari tempatnya, Sam memperhatikan Sheeta yang sedang duduk di salah satu meja di sudut ruangan. Perempuan itu begitu fokus meneliti layar perangkat elektroniknya. Di sebelah kanannya ada Aluna. Sedangkan tepat di depan Sheeta, bersandar seseorang yang dianggap akhir-akhir ini mendapat gelar sebagai rival terbesarnya: Harris.
Tepat di saat Sheeta memalingkan muka untuk berbicara dengan Aluna, ia mencium harum khas nan membekas jelas dalam ingatan: segarnya citrus dari bergamot dan lemon, kalemnya green tea, serta sandalwood yang menyiratkan creamy dan kesan maskulin. Ia yakin betul bahwa yang kali ini mampir ke hidungnya adalah harum CK One milik Sam. Cairan wewangian, yang menurut cerita lelaki itu, sudah digunakannya selama lebih dari satu dekade—akan terus jadi salah satu parfum favoritnya hingga bertahun-tahun ke depan.
“Hei,” Sam menyapa wanita idamannya lembut, “sorry, ya, lama,” katanya sambil menjatuhkan diri di sofa, tepat di sebelah Harris. “Ris, Al.” Disapanya Harris dan Aluna datar, senyum tipisnya tak lupa ia tampilkan.
Sheeta berseri-seri menyambut sosok lelaki yang ia tunggu sedari tadi. Pria yang acapkali terlihat bersungut-sungut ketika sedang diam itu, nyatanya kini sedang menyunggingkan senyum lebar kala mendapati wanita di depannya menatap dengan mata berbinar.
Sheeta pun menemukan sesuatu yang jarang ia lihat bertengger pas di atas batang hidung Sam yang tinggi dan tajam: sebuah kacamata membingkai mukanya yang tegas tanpa usaha berlebihan. Seolah benda itu dibuat khusus untuk proporsi wajahnya.
“Akhirnya dateng juga.” Aluna yang pertama kali berceletuk.
Sam tertawa lalu menggeser bahu lebarnya agar menempel lebih nyaman di punggung sofa. “Tempatnya enak banget,” kesannya.
“Lo baru pertama kali ke Tierra, ya?” tanya Harris, ia menoleh sekilas ke arah saingannya itu.
Sam mengangguk. “Iya, tapi Sheeta udah sering banget cerita. Emang se-cozy ini ternyata,” katanya sambil mengedarkan pandangan.
“Enak banget lo baru pertama ke sini, tapi langsung dapet tempat duduk di spot favorit,” celoteh Aluna sambil melirik ke arah Sheeta.
“Spot favoritnya udah gue booking dari lama, Al. Baru kesampaian aja dateng ke sini, ” timpal Sam asal, lalu melirik Sheeta.
Sheeta tidak menanggapi, ia hanya mengangkat alisnya sambil tersenyum, kemudian pura-pura kembali fokus layarnya. Padahal fokus adalah hal yang paling tidak mungkin berhasil ia lakukan sekarang.
“Order dulu, deh, Sam,” sela Harris tiba-tiba sambil menyerahkan satu buku menu yang masih tersisa di atas meja. “Nanti pesanan lo gue kirim ke nomor WhatsApp kasir aja.”